NEIGHBOUR



Hari ini aku menempati rumah baruku yang sederhana tapi cukup nyaman untuk ditempati seorang diri. Rumah ku terletak di daerah perumahan tua yang asri dan yang terpenting dekat dari kampus. Rumah ini hanya memiliki 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, ruang keluarga, dan ruang tamu. Aku memilih untuk menempati kamar yang terletak di sebelah ruang tamu.
            Walaupun tidak sekotor kemarin sebelum ditempati, tapi rumah ini masih sangat berdebu. Setelah meletakkan tas pakaian, aku langsung menyapu dan membersihkan debu-debu yang lengket di sudut lemari dan meja. Lalu aku menyapu halaman dan menata teras.
            Rumah sudah bersih dan rapi, kamarku juga sudah tertata sesuai keinginanku. Karena lelah aku beristirahat sejenak di teras sambil meminum segelas susu coklat dingin. Namun ketika aku memandang keluar, aku tersadar! Ternyata rumahku diapit oleh rumah-rumah yang berjarak sangat dekat, bahkan dapat dikatakan rumah kami hanya dibatasi dinding saja. Rumah-rumah tetangga ku ini memiliki bentuk rumah yang sama seperti rumah ku. Hanya saja warna rumah kami yang berbeda. Rumahku berwarna biru tua, tetangga samping kanan berwarna jingga, dan tetangga samping kiri berwarna putih namun sedikit kusam.
            Dari pada tidak ada kerjaan lagi, apa salahnya aku bertamu dan berkenalan dengan tetangga ku. Pertama sekali yang ku kunjungi tetangga samping kanan rumah ku. Mereka sepasang suami-istri, baik dan yang pasti ramah kepada ku. Mereka juga bilang kalau mereka senang memiliki tetangga baru. Sepulang dari sana, aku langsung mengunjung rumah tetangga samping kiri. Rumahnya terlihat sangat sepi dan jorok, yang ada hanya kucing hitam kurus yang tidur di depan pintu rumah. Pagarnya juga digembok atau mungkin rumah ini tidak berpenghuni? Tapi rumah ini terdapat hiasan pintu dan beberapa perabotan yang terlihat dari sela-sela jendela. Mungkin nanti malam saja aku berkunjung lagi.
* * *

            Tak lama setelah adzan magrib, aku keluar dari rumah untuk menyiram bunga. Ku lihat tetangga samping kiri rumahku sedang menyapu halaman-nya. Wanita itu berambut panjang dan berponi, ia mengenakan baju panjang berwarna kuning cerah. Aku fikir mungkin lebih baik aku sapa saja dia sekarang. 
“Permisi mbak...” perlahan aku mendekatinya. Tapi ia tidak menoleh dan terus menyapu. “saya Sica, tadi pagi baru aja pindah” aku terseyum lebar.
Ia berhenti menyapu dan mengangguk, tapi tetap tidak menoleh.
“kalau boleh tau, nama mbak siapa?”
“Dinda” jawabnya singkat dan lanjut menyapu.
“ohh… mbak tinggal sendirian ya?”
“iya, kenapa?” ia menoleh dengan tiba-tiba. Aku kaget dan angin berhembus membuat bulu kuduk ku berdiri.
“gak apa-apa” aku langsung berbalik dan masuk kedalam rumah. Aku sadar, ia terus menatapku hingga aku menutup pintu. Yang ada di fikiran ku, tetangga ku itu orang yang sangat misterius.
            Aku masuk ke kamar dan menyetel lagu mellow milik Mandy Moore yang berjudul ‘Only Hope’. Baru berputar 35 detik tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. Segera aku mematikan lagu dari handphone lalu bergegas membuka pintu. Mengejutkan! Itu Dinda. Tetangga yang misterius, tapi entah mengapa aku senang dia datang kerumah ku. Itu berarti dia tidak cuek terhadap ku. Tanpa senyum ia langsung masuk dan duduk di sopa.
“hai Dinda, ada apa tiba-tiba kesini?” tanyaku ramah, sedikit memperhatikan tatapan kosongnya kearahku. Wajahnya terlihat pucat.
“ada minum?” tanya-nya kembali.
“ohhh.. ada! Kamu mau minum apa? Biar aku ambil” jawabku bersemangat.
“minuman yang berwarna merah” ia melirikku
“hah? maksudnya sirup?” aku sedikit bingung.
Ia malah tersenyum meledek, “becanda! Apa aja deh” huff... aku fikir dia orang yang sama sekali tidak memiliki selera humor. Aku tersenyum kaku dan langsung menuju dapur.
Ketika aku sedang menuang air ke dalam gelas, aku merasa ada seseorang di belakang ku yang sedang memperhatikan ku. Sontak aku menoleh, “AAAH!” jantungku hampir copot! Nafas ku terengah-engah dan keringat bercucurah di dahi ku. “Dinda! Ngagetin aja!” berulang kali aku mengatur nafas.
“kamu beneran buatin aku minum yang warnanya merah?”
“hah?” aku langsung melihat gelas itu. “apa!?” padahal tadi aku hanya menuang air putih dingin! Kenapa sekarang berwarna merah? Aku kembali menatap Dinda penuh tanya. Dinda hanya mengangkat kedua alisnya.
“ta.. tad.. tadi aku cuman tuang air putih aja kok” jawabku terbata.
“udah gak apa, sini biar aku yang bawa” ia langsung mengambil gelasnya dan kembali duduk di ruang tamu. Aku masih diam seraya berfikir, apa yang sebenarnya terjadi? Aku yakin tadi aku menuang air putih! Dan dirumah ku sama sekali tidak ada sirup atau minuman yang berwarna merah. Jari tanganku seolah membeku. Aku menarik nafas panjang-panjang dan mencoba berfikir jernih.
Perlahan aku berjalan menuju ruang tamu. Sebelum sampai di ruang tamu, lampu padam! Belum pulih dari rasa kaget tadi, jantung ku sudah kembali bergetar. Aku mulai merasa panik dan sedikit mempercepat langkah ku. Pintu rumahku yang terbuka membantu pandanganku yang gelap-gulita. Segera aku menuju teras, tak ku perdulikan Dinda yang duduk diam di ruang tamu.
Angin yang bolak-balik berhembus terus membuat bulu kuduk ku berdiri. Namun aku tetap berusaha tenang. Dinda benar-benar tidak keluar dari rumah ku. Apa yang sedang dia lakukan di dalam kegelapan seperti itu? Baru saja aku berniat untuk melihatnya ke dalam, tiba-tiba kucing hitam kurus yang ku lihat tadi pagi dirumah Dinda keluar berlari dari rumah ku. Ini benar-benar sangat aneh! Aku sangat ketakutan sekarang. Hari pertama ku tinggal disini sangat berkesan buruk. Langsung aku membatalkan niat ku itu.
Tak lama kemudian lampu kembali menyala. “huff.. syukurlah!” aku langsung masuk kedalam rumah. Hal yang pertama sekali ku lihat adalah sofa yang di duduki oleh Dinda . Hal aneh terjadi lagi! Dinda tidak ada disini dan gelas yang tadi juga tidak ada. “Ada apa sebenarnya ini?! Dinda... Ah sudah lah!“ bentakku sambil melawan rasa takut. Aku bertekat untuk melihat rumah Dinda. Sungguh rumahnya sangat rapi dan bersih keadaan yang sangat berbeda dengan apa yang aku lihat tadi siang. Tetangga yang sangat aneh! Segera aku masuk kedalam rumah dan mengunci rumah rapat-rapat.
Diatas tempat tidur dengan selimut yang menutup setengah badanku aku masih berfikir keras mengenai kejadian tadi. Ini sungguh malam panjang yang sangat aneh dan menakutkan. Langsung aku menarik selimutku  hingga menutupi seluruh tubuhku.
* * *
            Ketika bagun pagi aku merasakan tubuhku begitu lelah. Hal itu membuatku mengingat kembali kejadian tadi malam. Aku keluar dari kamar lalu menuju ke dapur untuk meminum segelas air putih. Melihat keluar jendela betapa segarnya udara pagi ini. Berhubung masih libur kuliah, lebih baik aku berolahraga kecil dihalaman sambil menjernihkan kembali pikiranku.
            Setelah keluar rumah sepertinya semangat untuk berolahraga sirna setelah melihat atap rumah Dinda. Yang ada aku malah penasaran kepada rumah itu! Aku harus meghampiri rumahnya dan menanyakan tentang kejadian semalam. Sesampai dipagar rumahnya, aku merasa ini bukanlah keadaan rumah yang ku lihat tadi malam. Rumah itu kembali kusam dan jorok seperti apa yang aku lihat kemarin siang. Pagarnya masih tergembok, kucing hitam kurus yang semalam keluar dari rumahku itu juga masih tidur ditempat yang sama seperti kemarin. Aneh! Kemarin juga dia tidak pamit pulang dengan ku, ia pergi begitu saja.
            Aku kembali pulang. Kejadian kemarin dan tadi setelah melihat rumahnya semua hal itu sangat aneh! Kepalaku pusing memikirkannya, karena ini semua sama sekali tidak dapat diterima akal sehat. Kalau begini terus aku tidak akan bertahan lama tinggal dirumah ini.
* * *
            Sama seperti kemarin, setelah selesai adzan magrib aku melihat Dinda sedang menyapu halaman rumahnya. Entah kapan ia pulang kerumah itu. Yang pasti seharian aku dirumah dan tidak mendengar seseorang pergi atau pulang dari rumah itu. Ah! Aku tak akan perdulikan dia lagi. Aku anggap kejadian tadi malam sudah berlalu.
            Karena merasa haus aku pergi menuju dapur untuk mengambil minum. Sebelum sampai didapur, aku mendengar suara dari sana. Aku melihat kearah dapur dengan mata yang terbuka lebar. Jantungku kembali berdebar. Wanita berambut panjang dengan baju panjang berwarna kuning cerah. Itu... “DINDA!!” panggilku yang kukira akan mengejutkannya. Tapi ternyata tidak, dia tidak menoleh dan terus sibuk dengan kegiatannya.
            Dengan langkah yang pasti, aku menghampirinya. “kamu ngapain disini?! Kamu kok gak permisi dulu masuk kerumah ku?” kali ini aku tidak lagi menggunakan nada yang sopan.
“tadi pintu kamu gak dikunci” jawabnya santai. Kalau dia masuk kedalam rumah, mengapa tadi aku tidak mendengar suara pintu?
“terus kamu fikir kamu bisa masuk se-enaknya?! Sekarang kamu keluar”
“iya, tapi sebentar aku minum dulu” ia memegang gelas yang semalam aku suguhkan untuknya.
“emang dirumah kamu gak ada air minum apa?”
“ada, tapi gak ada yang warnanya merah kaya gini” hah? dia dapatkan minuman itu dari mana? Sungguh aku tidak memiliki minuman yang berwarna apa pun dirumah ku! Ia tampak legah setelah menghabiskan air minum itu. Tanpa mengatakan apa-apa ia langsung beranjak pergi.
            Aku takut! Dinda sungguh sangat menakutkan. Siapa sebenarnya dia? Masuk tanpa mendengar jejak kakinya. Meminum minuman merah yang tak pernah ada dirumah ku! Besok aku harus mencari tahu tentang semua ini.
* * *
            Keesokan paginya aku menghampiri tetangga samping kananku yang mungkin mereka lebih mengenal sosok Dinda. Aku pun mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Dinda dan menceritakan kejadian aneh 2 malam yang lalu. Mereka bilang mereka tidak pernah mengatahui Dinda, bahkan mereka tidak tahu kalau ternyata dirumah itu ada penghuninya. Mungkin karena mereka terlalu sibuk berkerja sehingga tidak dapat bersosialisasi dengan baik disini. Lebih baik aku menghampiri pak RT sebagai sumber yang pasti lebih banyak tahu mengenai warganya.
“selamat pagi pak, saya Sica penghuni baru rumah yang bernomor 25. Apa bapak sedang sibuk hari ini?” tanyaku sopan dengan nada yang lembut.
“ohhh.. kebetulan saya baru selesai mengurus KTP jadi sekarang sedang tidak terlalu sibuk. Ada perlu apa ya nak?”
“ada yang ingin saya ceritakan sekaligus menanyakan mengenai tetangga saya, rumah yang bernomor 26” setelah aku menyebutkan nomor rumah itu, raut wajah pak RT berubah menjadi sangat serius.
“boleh-boleh.. silahkan duduk nak”
“terima kasih pak sebelumnya sudah mau meluangkan waktunya. Jadi begini pak...” aku menceritakan seluruh kejadian aneh yang terjadi padaku selama 2 hari belakangan ini. Ketika mendengar ceritaku wajah pak RT sangat terkejut.
“memang dulu yang menempati rumah itu bernama Dinda, dia tinggal hanya sendiri dirumah itu sama seperti kamu! 1 tahun yang lalu ia sudah meninggal mengenaskan di dapur rumahnya, ada banyak sayatan di pergelangan tangan. Dan didalam rumahnya ada segelas darah yang diduga adalah darahnya sendiri. Tapi tidak ada yang tau pasti apa penyebab kematian-nya itu” jelas pak RT.
“hah? jadi kemarin yang berbicara dengan saya dan berkunjung ke rumah saya itu arwah gentayangannya Dinda pak?”
“mungkin nak, karna bukan hanya kamu yang dihantui olehnya. Penghuni rumah yang kamu tempati sekarang pindah ya karena dihantui arwah Dinda” pak RT berfikir keras.
            Sepulang dari sana aku duduk diteras rumah sambil memandang ngeri kearah rumah Dinda. Aku sangat tidak menyangka kalau aku dapat berbicara dan melihat hantu. “nak...” seseorang menyapa membuyarkan lamunan ku. Ohh... itu tetangga samping kanan rumahku.
“ya bu?”tanyaku lembut dan mempersilahkan ia masuk. “ada apa bu?”
“tidak ada, ibu cuman ingin memastikan keadaan kamu saja. Sepertinya kamu sangat ketakutan mengenai Dinda?” ibu yang baik ini menatapku penuh perhatian.
“yahh.. seperti itu lah bu. Saya khawatir ia akan datang lagi kerumah saya seperti kemarin”
“Jika masih takut, kamu boleh tidur dirumah saya malam ini” ia mengelus punggung tanganku.
“terima kasih bu, tapi sekarang saya sudah merasa baikan bu” terdengar suara adzan magrib.
“sudah adzan, saya pulang ya. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk kamu” kami berjabatan tangan. Ketika ia menggenggam tanganku, jari telunjuknya menyentuh urat nadiku lalu ia menekannya kuat-kuat. Karna merasa sakit aku segera melepaskan tanganku dari genggaman ibu itu.
* * *
            Sudah ku tebak! Dinda sekarang berada didapurku dan lagi-lagi meminum air merah itu. Kali ini aku tidak berani menghampirinya. Tapi ia masih tetap di sana dan tidak pergi.
“Din... da..” panggilku terbata. Dinda melihatku lalu sepertinya ia menangis. Aku merinding! Jantungku berdebar sangat kencang! Ada apa dengannya?
“Sic...caaaa” suaranya terdengar samar ditelinga ku. “kamu.. selanjutnya... Sicaa... darahmu yang selanjutnya Sica...” apa maksudnya? Darahku? Apa dia akan meminum darahku? “tidakk...” bantahnya seolah mendengar kata hatiku. “mereka... membunuhku, mengambil darahku, dan meminumnya... kamulah korban selanjutnya Sicaa...” ia terus menangis. Aku masih tidak mengerti!
            Tubuhku seperti kehilangan kesadaran. Entah mengapa aku mengikutinya berjalan menuju rumahnya lalu memasuki rumah itu. Dalam keadaan setengah sadar aku seolah melihat kejadian yang dialami Dinda setahun yang lalu. Aku melihat Dinda sedang mengambil minum lalu tiba-tiba seseorang menghampirinya. Itu adalah ibu yang tadi sore datang kerumah ku! Ia mengambil pisau lalu membius Dinda dan ia menyanyat tangan Dinda! Darah Dinda yang bercucuran ditampung didalam gelas lalu ia meminumnya!
            APA?! Sekarang aku mengerti mengapa ia selalu meminum minuman merah! Karena ia ingin memberi tahu ku tentang keberadaan tetangga sebelah kananku yang telah membunuhnya dan meminum darahnya! Dinda menangis dihadapanku, “tolong musnahkan mereka! Aku akan tenang setelah mereka tidak tinggal disini lagi! musnahkan mereka Sicaaaa!” tiba-tiba ia menghilang.
“DINDA! DINDA!” aku berlari keluar dari rumah ini dan menuju rumah pak RT!  Aku harus memberi tahunya. Ketika sampai diluar aku melihat ibu itu berada di depan pintu rumah ku. Kakiku terasa beku tapi aku harus segera berlari sebelum ia menyadari keberadaanku disini.
“SICA!” jerit ibu itu yang membuat lari ku semakin kencang. Aku tidak mau mati sia-sia disini! Jeritku dalam hati.
            Sesampainya dirumah pak RT aku langsung menggedor-gedor pintu rumahnya. Rasa takut yang begitu besar membuatku hampir menangis. Ku ceritakan semua kejadian itu, sebab-musabab kematian Dinda.
            Tanpa basa-basi lagi, pak RT langsung menelfon polisi. Polisi-polisi itu telah mengepung rumah tetangga samping kananku. Membawa mereka pergi dan mengangkut semua barang-barang mereka. Aku hanya dapat melihat ibu itu dengan penuh kekecewaan.
“terima kasih ya nak! Kamu telah membantu membongkar misteri dibalik kematian Dinda. Walaupun kejadiannya sudah 1 tahun yang lalu, tapi kami selalu menyelidiki hal ini” pak polisi menjabat tanganku. Aku hanya dapat tersenyum lega.
            Setelah sepi aku melihat Dinda tersenyum kepadaku, lalu ia melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan. Terima kasih Dinda, karena kamu telah menyelamatkan nyawaku. Sekarang aku tau, yang harus kita takuti bukanlah seseorang yang telah mati tetapi seseorang yang masih hidup mungkin jauh lebih menakutkan dari arwah gentayangan dan patut untuk diwaspadai. Aku membalas senyuman-nya. 
*********************************************************************************
[DO NOT COPY WITHOUT PERMISSION]

Written By Esty Jumadi

Komentar